Editors Picks

My Blog List

Saturday, November 21, 2015

Pengobatan Tradisional Masyarakat Paser Kalimantan Timur

Adat Pengobatan Masyarakat Paser

Masyarakat Paser juga mengenal upacara adat belian. Upacara belian umumnya  dilaksanakan untuk tiga kegiatan yakni:
1.      Belian benyaro yang digunakan untuk memberikan pengobatan orang yang sakit; 
2.      Belian boat kokat, yang digunakan untuk orang yang membuang hajat atau nazar;
3.      Belian buntang yang digunakan untuk palas desa yang terkena wabah penyakit atu diserang oleh hama tanaman yang berupa babi, burung, belalang, dan tikus. 

Pelaksanaan upacara belian ini dipimpin oleh seorang mulung. Mulung adalah sebutan untuk seseorang yang memiliki ilmu khusus tentang pengobatan di daerah Paser.
Upacara  belian benyaro membutuhkan waktu pelaksanaan satu hari satu malam. Tujuannya adalah untuk mengobati beberapa penyakit yang diakibatkan oleh gangguan roh-roh halus. Seseorang dapat sakit karena gangguan roh sebagai akibat kesalahan dalam berhubungan dengan alam. Kesalahannya berupa memasuki tempat, membuka hutan, membuang air/kotoran tanpa permisi kepada roh yang menunggu tempat itu.
Kepercayaan tradisional Paser meyakini bahwa ada berbagai macam roh (uwok) yang menempati lingkungan dimana manusia hidup. Roh yang menjaga air disebut Uwok Tondai, roh yang menjaga udara/angin/atmosfer disebut Uwok Nayu, roh yang menjaga langit atau tata surya disebut Uwok Naya Gagu.
Dalam menjalankan ritual belian benyaro seorang mulung akan dibantu oleh penggading yang tugasnya adalah melayani mulung saat menjalankan tugasnya. Penggading umumnya adalah seorang perempuan, namun dapat juga seorang laki-laki.
Prosesi pengobatan dimulai dengan tarian oleh mulung yang diiringi tetabuhan. Sambil menari seorang mulung akan membaca mantera. Akhir upacara ditandai dengan mengantar sesajen ke pohon besar, sungai, batu besar atau tempat-tempat lain yang dianggap keramat. Saat melaksanakan upacara belian, keluarga yang meminta harus menjalankan pantangan (pendion) sesuai apa yang diperintahkan oleh mulung.
Kemudian upacara belian boat kokatTujuan pelaksanaannya adalah untuk membayar hajat atau nazar. Umpanya seseorang berhajat atau bernazar untuk tanaman di ladang atau di sawah subur, terbebas dari hama dan menghasilkan panen yang baik.
Prosesi belian boat kokat biasanya berlangsung selama tiga hari tiga malam. Pada akhir prosesi akan diakhiri dengan betori atau acara berbalas pantun antara laki-laki dan perempuan. Di masa lalu sebelum betori akan didahului dengan meminum tuak yang terbuat dari beras ketan. Tuak yang sudah diseimpan bertahun-tahun itu akan membuat yang meminumnya menjadi berani sehingga ketika melakukan betire tidak akan merasa malu meski ditonton oleh banyak orang.  Acara betori ini akan dilakukan selama satu malam suntuk.
Dan akhir dari prosesi, dipagi hari setelah acara betire, mulung disertai beberapa orang akan membawa sajen ke pohon besar atau tempat keramat lainnya sebagai tanda persembahan. Keluarga yang meminta atau menjalankan prosesi harus menjalani pantangan yang kalau dilanggar akan berakibat buruk untuk mereka.
Terakhir adalah  belian buntang atau belian besar.  Upacara ini dilaksanakan selama delapan hari namun bisa juga hingga satu bulan. Pelaksanaannya dilakukan oleh delapan orang mulung secara bergantian. Masing-masing mulung akan melakukan tugasnya berdasarkan kesepakatan antar mereka.
Tujuan dari pelaksanaan belian buntang adalah untuk pelas atau memelas desa. Pelas adalah semacam bersih desa agar warga masyarakat desa terhindar dari serangan wabah penyakit dan ladang atau sawah mereka terhindar dari serangan hama.

Selain ketiga jenis upacara belian di atas, masayrakat paser juga mengenal upacara besipung. Namun ini sudah jarang atau bahkan sudah punah. Besipung adalah upacara mengobati penyakit yang dilakukan oleh mulung tapi tidak disertai dengan tetabuhan dan tari-tarian. 

BELIATN: Pengobatan Tradisional Suku Dayak Tunjung Benuaq

Upacara Pengobatan Dayak Tunjung Benuaq

Belian atau beliatn adalah sebutan wadian dalam bahasa Benuaq dan Tunjung.  Belian bawo adalah salah satu upacara pengobatan yang biasa dilaksanakan oleh Dayak Benuaq dan Tunjung. Upacara Belian Bawo bertujuan untuk menolak penyakit dan mengobati orang sakit.  Fungsi Belian Bawo untuk menyelidiki apa yang menyebabkan penyakit itu, dan menyembuhkan orang sakit. Jika penyakit disebabkan karena marahnya makhluk halus, penyembuhannya dengan cara meminta maaf kepada makhluk tersebut dengan mempersembahkan sesaji dan melakukan ritual pemujaan.   
Disebut sebagai belian bawo karena dalam ritualnya belian itu menggunakan bahasa bawo sebagai bahasa pengantarnya. Pemeliatn atau beliannya bisa laki-laki bisa juga perempuan. Belian bawo dicirikan dengan penggunaan sepasang selang perunggu yang disebut  Ketakng, Dan memakai ikat kepala yang disebut  Lawukng.           
Seorang pemeliatn pria tidak mengenakan baju melainkan memakai sejenis untaian yang terdiri dari rangkaian berbagai jenis kayu obat-obatan dan taring binatang. Untaian kalung itu disebut Samakng Sawit  dan dipakai dengan menyelempangkan dari bahu kiri-kanan ke bawah rusuk kanan kiri.
Belian akan mengenakan sejenis rok panjang hingga menutupi mata kaki. Rok atau kun itu direnda dengan motif tertentu yang disebut sebagai Ulap Bawo. Bagian pinggang akan dililit juga dengan kain ulap bawo yang disebut sempilit. Kemudian diatas sempilit akan dipasang ikat pinggang khusus yang disebut babat.
Dalam melakukan upacara adat belian bawo rangkaian kegiatannya biasanya akan terdiri dari ritual berikut ini :
  • Momaaq  : Merupakan proses untuk mengawali setiap upacara belian bawo. Tujuannya adalah untuk menjelajahi negeri para dewa dan mengundang mereka untuk membantu usaha pengobatan.  Momaaq diawali dengan meniup sipukng/baluluq sebanyak tiga kali. Suara sipukng berperan untuk memberi undangan sekaligus merupakan kode untuk penabuhan gendang yang pertama kali atau nitik tuukng.
Setelah gendang ditabuh, pemiiatn akan menaburkan beras yang berada dalam genggaman sebagai tanda pelepasan utusan yang akan menjemput para dewa yang diundang.  Saat melakukan ini pemeliatn duduk bersila menghadap awir. Awir adalah daun pinang beserta dahannya yang telah dibuang lidinya dan digantung bersama lembaran kain panjang yang menjuntai hingga menyentuh tikar pada bagian ujung. Awir berfungsi sebagai jalan atau tangga bagi para dewa untuk naik dan turun.
  • Jakaat : Setelah para utusan tiba di negeri para dewa, pemeliatn akan berdiri dan kemudian berjalan mengitari awir. Ini merupakan pertanda bahwa para dewa mulai bergerak turun untuk memenuhi undangan. Setelah para desa tiba dalam rumah atau tempat upacara, pemeliatn akan mulai menari untuk melakonkan gerak gerik dari masing-masing dewa yang hadir.
  • Penik Nyituk    : Setelah para dewa mendapat giliran menampilkan kebolehan dalam menari, mereka akan duduk dan kemudian menanyakan alasan mengapa mereka dipanggil datang. Tuan rumah atau yang punya hajat akan menjawab berdasarkan masalah yang sedang mereka hadapi.
  • Ngawat : Pemeliatn akan mulai berdiri, mereka mewakili para dewa yang hadir untuk mulai melakukan perawatan terhadap orang sakit dengan menggunakan sololo. Perawatan akan berpuncak di depan pintu, pemeliatn akan mewakili para desa yang mempunyai kemampuan nyegok (menyedot) penyakit dan kemudian memberikan penyapuh atau semacam obat untuk menyembuhkan penyakit.
Selama pemeliatn melakukan perawatan, gendang akan ditabuh dengan irama cepat atau irama sencerep dan kupuk tuatn. Akhir perawatan akan diselesaikan dengan Ngasi Ngado dan Nelolo-Nyelolani yang dimaksudkan untuk  menciptakan kondisi sejuk dan nyaman serta bebas dari cengkraman penyakit . Ketika perawatan berakhir, irama dan lagu gendang akan berubah dengan semakin diperlambat atau disebut dengan irama  Meramutn dan beputukng .     
  • Tangai : Ini merupakan tahap dimana pemeliatn mempersilahkan para dewa kembali ke tempat masing-masing. Namun terlebih dahulu akan disajikan hidangan alakadarnya. Jenis hidangan akan disesuaikan dengan tingkat acara yang diselenggarakan.
  • Engkes Juus : Adalah memasukkan roh dan jiwa ke tempat yang seharusnya yaitu pada badan dari yang empunya jiwa itu sendiri.
  • Bejariiq  : Orang sakit setelah upacara harus melakukan pantangan. Selama berpantang dia tidak diperbolehkan keluar rumah dan memakan makanan terlarang seperti terong asa, rebung dan daging dari semua jenis hewan melata.
Kediaman juga harus dijaga tetap sepi, tidak boleh menerima tamu. Hal ini ditandai dengan penancapan dahan dan daun kayu hidup disamping pintu masuk rumah bagian luar. Melanggar pantangan ini akan membuat penyakit datang kembali.  Dengan berakhirnya masa jariiq ini maka seluruh rangkaian upacara balian bawo akan berakhir.
Sementara itu tingkatan penyelenggaraan belian bawo oleh keluarga atau masyarakat dibedakan berdasarkan berat ringannya masalah dan keadaan ekonomi dari yang menyelenggarakannya. Tingkatan dari belian bawo adalah :

  1. Ngejakat adalah pelaksanaan belian bawo selama satu hari. Dalam upacara ini tidak mengurbankan binatang dan tak berlaku masa jariiq.
  2. Bekawat Encaak adalah pelaksanaan upacara belian bawo dengan lama minimal tiga hari. Dalam upacara ini dikorban hewan berupa babi dan ayam, menggunakan balei di tanah dan menjalani masa jariiq selama maksimal tiga hari.
  3. Makatn Juus adalah pelaksanaan upacara belian bawo dengan lama kamsimal delapan hari. Hewan yang dikurbankan adalah ayam, babi atau kambing. Menggunakan balei di dalam dan halaman rumah. Jumlah pemeliatn delapan orang dan menjalani masa jariiq maksimal empat hari.
  4. Nyolukng Samat adalah pelaksanaan belian bawo dengan lama maksimal delapan hari. Hewan yang dikurbankan adalah ayam, babi, kambing dan kerbau sesuai janji waktu nyamat. Jumlah pawang belian minimal delapan orang dan menggunakan balei di dalam serta diluar rumah. Masa jariiq minimal empat hari.           

HERBAL KALTIM "Akar pohon Pinang" sebagai obat sakit pinggang

Ada beberapa jenis akar yang digunakan untuk mengobati sakit pinggang, antara lain, akar pinang atau akar kelapa dan akar bunga sepatu. Caranya, akar yang muda dibersihkan lalu direbus. Setelah dingin, air rebusan diminum.
Selain akar, dedaunan tertentu juga dapat menjadi obat sakit pinggang, di antaranya adalah daun tapak kuda, daun kumis kucing, daun kaca beling, dan daun uro kaming.
Caranya, daun yang sudah dicuci diseduh dengan air dan air seduhan diminum. Khusus kumis kucing dan kaca beling, daun diremas-remas terlebih dahulu sebelum diseduh dengan air panas; bisa juga direbus sampai mendidih, lalu air rebusan didinginkan dan diminum.
Daun uro’ uit dimanfaatkan sebagai obat sakit pinggang dan salah urat perut. Caranya, daun dibersihkan lalu diseduh dengan air panas dan diminum. Adapun daun udutebejak digunakan untuk anggota tubuh yang bengkak atau keseleo. Caranya, daun dipanggang sampai hampir layu lalu dilingkarkan pada bagian tubuh yang bengkak atau keseleo.
Sedangkan seremplukan dan kayu kemudi patah digunakan untuk pengobatan patah tulang. Caranya, daun seremplukan dibungkus dengan daun pisang lalu dipanaskan di atas tungku, tetapi tidak boleh dibolak-balik. Setelah itu daun diikatkan ke bagian tubuh yang mengalami patah tulang. Untuk pengikat digunakan daun bekukang yang dipanaskan terlebih dulu di atas bara api.

Ramuan lainnya adalah 7 batang serai dipotong daun dan akarnya. Setelah itu dibersihkan dan ditumbuk dalam lesung atau cobek  hingga lunak. Kemudian dibalutkan pada bagian tulang yang patah dan dilapisi dengan kain pembalut di bagian luarnya. Ramuan obat dibuat setiap hari menjelang pengobatan dan hanya untuk sekali pemakaian.

HERBAL KALTIM Akar Pohon Kenanga, sebagai obat sakit Kuning

Penyakit ini dapat disembuhkan dengan menggunakan ramuan akar kenang, akar terung pipit, akar kunyit, dan akar serai wangi. Gejala penyakit ini adalah tubuh berwarna kuning dan lemah seperti tidak bertenaga. Cara membuat ramuan ini adalah sebagai berikut: akar kenanga, akar terung pipit dan akar kunyit direbus dalam panci aluminium. Air rebusan ramuan ini diminum. Kemudian serai wangi direbus hingga mendidih, air untuk mandi. Takaran masing-masing secukupnya dengan perbandingan yang sama. Pengobatan dilakukan secara rutin 2 hingga 3 kali sehari. Ramuan obat tersebut harus dihangatkan sebelum digunakan untuk mandi maupun diminum. Sisa obat disimpan di tempat tertutup.

HERBAL KALTIM "Kecubung", sebagai obat Rematik

Rematik bisa juga disebut penyakit encok, dengan tanda-tanda sendi tulang terasa ngilu. Penyakit rematik dapat diobati dengan ramuan obat yang berupa poder atau salep yang ditempelkan pada bagian yang sakit. Bahan untuk membuat ramuan obat ini adalah kecubung dan kapur sirih. Cara membuat ramuan ini, kecubung sebanyak 7 buah ditumbuk dan dicampur dengan kapur sirih. Setelah kedua bahan tersebut tercampur dan menjadi poder kemudian ditempelkan pada bagian yang sakit sebanyak 3 kali sehari.

OBAT HERBAL KALTIM "Kutu Batu" sebagai obat Demam


Untuk mengobati demam yang dipakai adalah daun kutubatu, uroq sina, tombong dan tulang pitam untuk mengobati demam. Kutubatu dalah tumbuhan liar yang banyak tumbuh di tepi jalan atau pekarangan rumah. Caranya adalah dengan merebus daun kutubatu dengan 2 liter air. Air rebusan itu kemudian didinginkan selama satu malam dan setelah itu baru diminum sebanyak setengah gelas.

Cara yang berlaku pula untuk daun uroq sina  dan daun tombong. Namun untuk daun tombong selain daunnya, batangnya juga bisa dipakai untuk keperluan yang sama.

Sementara untuk penyakit demam kerumut (campak), daun yang dipakai untuk mengobatinya adalah uroq kubu’. Beberapa helai daun uroq kubu’ dibersihkan kemudian direbus atau diseduh lalu diminum.


Sedangkan untuk demam berdarah, ramuan yang dipakai untuk mengobatinya adalah  jambu biji (simo bala). Jambu biji dilumatkan sampai halus dan kemudian ditambah air sedikit lalu diminum. 

PENGOBATAN HERBAL KALTIM


PENGOBATAN HERBAL KALTIM

PENDAHULUAN

Hutan bagi masyarakat tradisional Kalimantan Timur mempunyai kedudukan yang sangat penting. Hutan adalah sumber kehidupan atau bahkan kehidupan itu sendiri. Hutan menyediakan berbagai keperluan untuk menopang hidup seperti lahan untuk berladang, mencari binatang buruan, bahan baku perabotan, sandang dan papan. Dalam ungkapan tertentu, masyarakat tradisonal kerap menyebut hutan adalah supermarket mereka.
Kekayaan atau keanekaragaman jenis tumbuhan dalam  hutan juga menjadi sumber berbagai ramuan yang digunakan oleh masyarakat tradisional untuk mengatasi berbagai macam penyakit. Ramuan yang biasa dipakai terdiri dari daun, bunga, buah atau biji, kulit, batang hingga akar tanaman. Dengan demikian hutan bisa diibaratkan sebagai apotek hidup bagi masyarakat tradisional.
Berikut ini beberapa jenis tanaman yang berada di dalam hutan Kalimantan Timur yang berpotensi sebagai tanaman obat :

  • Pohon Angsana (Pterocarpus indicus)  :  Pohon ini terutama banyak digunakan oleh masyarakat untuk diambil kayunya.  Namun pohon ini sebenarnya merupakan obat alami untuk menyembuhkan infeksi kulit akibat jamur. Bagian dari pohon ini seperti kulit, daun dan getah  juga bisa digunakan sebagai obat alternatif untuk menyembuhkan beberapa jenis penyakit seperti batu ginjal, sariawan dimulut (memanfaatkan bagian kulit), kencing manis, bisul, menyuburkan rambut, dan untuk mengendalikan tumor dan kanker (memanfaatkan bagian daun), dan penyembuh luka dan sariawan mulut (memanfaatkan bagian getah sebagai obat luar).
  • Akar Kuning (Fibraurea chloroleuca) : Tumbuhan akar kuning ini termasuk tumbuhan obat yang sulit dicari. Pohon akar kuning  lebih banyak dijumpai di Kalimantan Timur khususnya di wilayah utara. Manfaat akar kuning dapat digunakan sebagai obat antikanker maupun obat antimalarial. Selain itu kegunaan akar kuning juga bisa bermanfaat untuk obat hepatitis, cacar, menambah daya tahan tubuh/meningkatkan daya dan stamina tubuh secara alami dan memperbaiki fungsi hati, manfaat akar kuning dapat juga untuk obat cacing, mengurangi dan mencegah gangguan pencernaan dalam tubuh.
  • Bintangur (Calophyllum lanigerum) : Pohon ini mempunyai manfaat untuk digunakan sebagai penghambat pertumbuhan virus HIV. Bintangur ini mengandung senyawa costatolide dalam getah daunnya. Hasil penelitian menunjukkan senyawa castotolide A cukup efektif menekan pertumbuhan virus HIV.
  • Pohon Lansat (Lansium domesticum) : Pohon ini dikenal sebagai agen anti malaria yang ampuh  pada bagian kulitnya.  Senyawa tersebut – triterpenoid – dalam uji laboratorium mampu membunuh parasit malaria pada manusia – Plasmodium falciparum.
  • Mangrove (Xylocarpus granatum) : Tumbuhan ini banyak tersebar diwilayah pesisir dan muara.  Biji mangrove jenis Xylocarpus granatum dengan kandungan flavonoid dan tanin berperanan penting di dalam mencegah terjadinya kanker kulit akibat sengatan sinar matahari. Biji mangrove didestruksi dan kemudian dibuat ekstraknya dan dicampur dengan bahan lainnya berguna sebagai krim tabir surya ( sun protector factor).
  • Gadung (Dioscorea sp) : Tanaman ini dikenal sebagai tanaman beracun sehingga tidak bisa dikonsumsi secara langsung. Namun demikian umbi gadung masih dapat dimanfaatkan untuk obat luar. Parutan umbi gadung ini dapat digunakan untuk mengobati penyakit kusta tahap awal, kutil, kapalan dan mata ikan, mengobati luka-luka akibat penyakit syphilis, irisan dari umbi gadung dioleskan untuk mengurangi kejang perut dan kolik, menghilangkan luka bernanah. Arthritis dan reumatik dapat di olesi parutan gadung.
  • Pacing (Costus spesiosus ) : Tumbuhan ini bisa digunakan sebagai obat atau ramuan kontrasepsi. Seluruh bagian tumbuhan digunakan sebagai obat luar untuk luka akibat digigit ular atau digigit serangga. Juga digunakan sebagai obat disentri. Daun digunakan sebagai obat radang selaput lendir mata. Daun yang masih muda juga digunakan untuk menyuburkan rambut. Batang digunakan sebagai obat demam dan disentri. Empulur batang untuk mendinginkan mata pada penderita cacar.
  • Hanjalutung (Alstonia scholaris L.) : Tumbuhan ini ditemukan di hampir semua hutan di Kalimantan Timur pada dataran rendah dengan ketinggian  sampai 900 m dpl. Tumbuhan ini dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti: Demam, malaria, limfa membesar, batuk berdahak, diare, disentri, ; Kurang napsu makan, perut kembung, sakit perut, kolik, anemia; Kencing manis (diabetes melitus), wasir, gangguan haid, bisul; Tekanan darah tinggi (Hipertensi), rematik akut, borok (ulcer); Beri-beri, masa nifas, payudara bengkak karena ASI; serta untuk obat kuat/vitalitas.
  • Tumbuhan Sarang Semut (Mymercodia sp.) : Tumbuhan ini  merupakan salah satu tumbuhan epifit dari Hydnophytinae (Rubiaceae) yang dapat berasosiasi dengan semut. Tumbuhan ini bersifat epifit, artinya tumbuhan yang menempel pada tumbuhan lain, tetapi tidak hidup secara parasit pada inangnya, hanya sebagai tempat menempel. Tumbuhan ini digunakan sebagai antibiotik dengan mengganggu fungsi dari mikroorganisme seperti bakteri atau virus. Fungsi flavonoid sebagai antivirus telah banyak dipublikasikan, termasuk untuk virus HIV (AIDS) dan virus herpes. Selain itu, flavonoid juga dilaporkan berperan dalam pencegahan dan pengobatan beberapa penyakit lain seperti asma, katarak, diabetes, encok/rematik, migren, wasir, dan periodontitis (radang jaringan ikat penyangga akar gigi). Penelitian¬-penelitian mutakhir telah mengungkap fungsi-fungsi lain dari flavonoid, tidak saja untuk pencegahan, tetapi juga untuk pengobatan kanker.
  • Kantong Semar (Nephentes sp). : Tanaman ini termasuk dalam Genus Nepenthes yang merupakan tumbuhan karnivora di kawasan hutan tropis. Tanaman ini banyak diburu sebagai sebagai tanaman hias tumbuhan, namun sebenarnya berkhasiat untuk digunakan sebagai obat batuk.

Partitur Gitar Klasik: Andante in A Minor By. F. Carulli


Partritur Gitar Klasik: "Sonatine" By Mauro Guilani



Partitur Gitar Klasik "Adelita" By. Tarrega